Selasa, 29 Maret 2016
Sabtu, 26 Maret 2016
Mekanisme Terjadinya Nyeri
ALUR PERJALANAN NYERI (NOCICEPTIVE PATHWAY)
Gambar 1. Alur Terjadinya Nyeri
Perjalanan
nyeri termasuk suatu rangkaian proses neurofisiologis kompleks yang disebut
sebagai nosiseptif (nociception) yang merefleksikan empat proses komponen yang
nyata yaitu transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi, dimana terjadinya
stimuli yang kuat diperifer sampai dirasakannya nyeri di susunan saraf pusat
(cortex cerebri).Dimana Nyeri berdasarkan mekanismenya melibatkan
persepsi dan respon terhadap nyeri tersebut. (McGuire & Sheilder, 1993;Turk & Flor, 1999). Keempat
proses tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
Transduksi/Transduction
Transduksi adalah adalah proses dari
stimulasi nyeri dikonversi ke bentuk yang dapat diakses oleh otak (Turk &
Flor,1999) atau Proses
dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung saraf. Proses transduksi dimulai ketika nociceptor (reseptor yang
berfungsi untuk menerima rangsang nyeri) teraktivasi yaitu oleh suatu stimuli kuat (noxion
stimuli)seperti tekanan fisik kimia, suhu dirubah menjadi suatu aktifitas
listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf perifer (nerve ending) atau organ-organ
tubuh (reseptor meisneri, merkel, corpusculum paccini, golgi mazoni). Aktivasi reseptor ini (nociceptors)
merupakan sebagai bentuk respon terhadap stimulus yang datang seperti kerusakan
jaringan.Kerusakan
jaringan karena trauma baik trauma pembedahan atau trauma lainnya menyebabkan
sintesa prostaglandin, dimana prostaglandin inilah yang akan menyebabkan
sensitisasi dari reseptor-reseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator
nyeri seperti histamin, serotonin yang akan menimbulkan sensasi nyeri. Keadaan
ini dikenal sebagai sensitisasi perifer.
Transmisi/Transmission
Transmisi adalah serangkaian kejadian-kejadian
neural yang membawa impuls listrik melalui sistem saraf ke area otak. Proses
transmisi melibatkan saraf aferen yang terbentuk dari serat saraf berdiameter kecil ke sedang serta
yang berdiameter besar (Davis, 2003). Saraf aferen akan ber-axon pada dorsal
horn di spinalis. Selanjutnya transmisi
ini dilanjutkan melalui sistem contralateral spinalthalamic melalui ventral lateral dari thalamus menuju cortex serebral dimana proses
penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi
melalui serabut A-delta dan serabut C dari perifer ke medulla spinalis, dimana
impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh tractus
spino-thalamicus dan sebagian ke traktus
spinoretikularis. Traktus spinoretikularis terutama membawa rangsangan dari
organ-organ yang lebih dalam dan viseral serta berhubungan dengan nyeri yang
lebih difus dan melibatkan emosi. Selain itu juga serabut-serabut saraf disini mempunyai
sinaps interneuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan
bermielin. Selanjutnya impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di
cortex cerebri dan dirasakan sebagai persepsi nyeri.
Modulasi/Modulation
Proses modulasi mengacu kepada aktivitas
neural dalam upaya mengontrol jalur transmisi nociceptor tersebut (Turk & Flor, 1999).
Proses modulasi melibatkan system neural yang komplek. Ketika impuls nyeri
sampai di pusat saraf, transmisi impuls
nyeri ini akan dikontrol oleh system saraf pusat dan mentransmisikan impuls nyeri
ini ke bagian lain dari sistem saraf seperti bagian cortex. Selanjutnya impuls nyeri
ini akan ditransmisikan melalui saraf-saraf descend ke tulang belakang untuk memodulasi
efektor. Proses
perubahan transmisi nyeri yang terjadi di susunan saraf pusat (medulla spinalis
dan otak). Proses terjadinya interaksi antara sistem analgesik endogen yang
dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior
medulla spinalis merupakan proses ascenden yang dikontrol oleh otak. Analgesik
endogen (enkefalin, endorphin, serotonin, noradrenalin) dapat menekan impuls
nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Dimana kornu posterior sebagai
pintu dapat terbuka dan tertutup untuk menyalurkan impuls nyeri untuk analgesik
endogen tersebut. Inilah yang menyebabkan persepsi nyeri sangat subjektif pada
setiap orang.
Persepsi/Perception
Hasil
akhir dari proses interaksi yang kompleks dari proses tranduksi, transmisi dan
modulasi yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu proses subjektif yang
dikenal sebagai persepsi nyeri, yang diperkirakan terjadi pada thalamus dengan
korteks sebagai diskriminasi dari sensorik.Persepsi adalah proses yang subjective(Turk
& Flor, 1999). Proses persepsi ini tidak hanya berkaitan dengan proses
fisiologis atau proses anatomis saja (McGuire & Sheildler, 1993), akan
tetapi juga meliputi cognition(pengenalan) dan memory (mengingat) (Davis,
2003). Oleh karena itu, faktor psikologis, emosional, dan berhavioral
(perilaku) juga muncul sebagai respon dalam mempersepsikan pengalaman nyeri
tersebut. Proses persepsi ini jugalah yang menjadikan nyeri tersebut suatu
fenomena yang melibatkan multidimensional.
Sumber :
Ardinata,D.November 2007.Multidimensional Nyeri.Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara.Volume 2,No. 2. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21184/1/ruf-nov2007-2 (1).pdf diakses tanggal 26 Maret 2016 pukul 11.30 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)